KECERDASAN
INTRAPERSONAL
A. PENDAHULUAN
Hubungan erat antara orang tua –anak akan menciptakan rasa aman secara emosi
pada anak. Ciri-ciri anak yang merasa aman dapat dilihat secara emosi lebih
tenang ketika menghadapi perpisahan dengan Ibunya, rasa ingin tahunya jauh
lebih besar dan ingin bereksplorasi. Seperti ingin diketahui bahwa rasa ingin
tahu yang besar merupakan landasan belajar yang utama. Anak yang selalu ingin
tahu menjadi pembelajar aktif, dengan gigih berusaha mencari jawab atas
keigintahuannya. Seorang anak yang dengan rasa ingin tahu yang besar dapat
dikenali dari penampilannya yang menyenangkan, kreatif dan tidak membosankan.
Dukungan orang tua untuk menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang
unik, dengan segala keberadaannya seperti temperamen, karakter, dan potensinya
akan mendukung pertumbuhan anak untuk belajar memahami diri dan tentunya jauh
lebih mandiri.
Terfokus anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol memiliki kepekaan
perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri dan mampu
mengendalikan diri dalam situasi sulit. Ia juga mengetahui apa yang dapat
dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungannya.
Munculnya kecerdasan Intrapersonal pada anak usia dini telah mendapat konsep
permulaan mengenai diri, misalnya sebuah episode yang digambarkan oleh Seymour
Epstein dari Universitas Massachussets yaitu seorang anak kecil bernama Diana
yang berusia 2 tahun, duduk dimeja bersama keluarga besarnya. Diana diminta
menunjuk bibi Rina, dan hal itu dilakukan dengan betul. Kemudian ada suatu
permainan dimana mereka meminta Diana menunjuk kebelbagai orang, setelah itu
salah seorang diantara mereka berkata ”tunjuk Diana”. Anak itu bingung, iapun
menunjuk kesembarang orang. Kemudian ibunya berkata ” kamu tahu siapa Diana.
Tunjuk pada gadis kecil yang biasa dipanggil Diana.” Sekarang ia mengerti dan
tanpa ragu – ragu menunjuk dirinya.
Ketika anak mulai tumbuh dan berkembang, dia akan terus menerus berusaha dan
mencari dan membangun identitasnya, anak ingin mengetahui siapa dirinya dan
bagaimana menyesuaikan diri dengan dunianya. Dalam proses pertumbuhan dan
proses belajar mau tidak mau anak akan bertemu dengan dengan orang-orang yang
melampaui dirinya dalam penampilan, kemampuan dan bakat
Jika orang tua tidak menolong anaknya untuk mengembangkan pemahaman yang kuat
mengenai diri dan keunikannya pada anak usia dini, akan membawa anak pada citra
diri dan harga diri yang rendah. Bukannya membantu, banyak orang tua yang
bahkan membuat masalah bertambah parah dengan berusaha membentuk anak-anak mereka
menjadi orang-orang yang menurut mereka cocok bagi anaknya ” Ayahmu seorang
dokter terkenal, kamu harus bisa seperti Ayahmu ” kemungkinannya apabila anak
gagal memenuhi harapan orang tua, anak akan merasa bahwa dia telah membuat
orang tua gagal. Hal ini akan memperparah perasaan tidak berharga pada diri
anak.
Selain itu, banyak orang tua keliru memotivasi anak mereka dengan membuat
perbandingan, misalnya mereka mengatakan hal-hal seperti ini, ”Rinto, mengapa
kamu tidak dapat menggambar sebagus kakakmu? Atau Deo, jika kamu menyisir
rambutmu dengan rapi, kamu akan setampan temanmu Roni.” Melakukan hal seperti
itu hanya akan membuat seorang anak merasa lebih buruk mengenai dirinya dan
anak akhirnya akan tumbuh menjadi orang dengan kecerdasan intrapersonal yang
sangat rendah.
Alangkah positifnya, apabila orang tua perlu mengingatkan anak bahwa dia unik,
menarik , istimewa dan sebaiknya tetap menjadi sebagaimana dirinya. Selalu
katakan kepada anak bahwa dia memiliki karunia, kelebihan, dan bakat yang
khusus. Mendukung kelebihan melalui pengakuan Misalnya, apabila seorang Ibu
melihat anaknya melakukan sesuatu yang baik, maka Ibu tersebut akan menyatakan
”engkau berbakat”. Jika orang tua memperhatikan bahwa anaknya pandai dalam
menggambar, maka akan baik dan tepat bila berkata”Wah, gambarmu bagus sekali,
Ibu yakin banyak orang yang tidak dapat melakukannya sebaik kamu nak”.
Seorang anak bukan hanya hasil dari ”chromosom” dan ”gene” orangtua wariskan
tetapi anak juga merupakan hasil lingkungan yang orang tua ciptakan untuk
anaknya. Lingkungan tersebut mencakup hal-hal fisik seperti makanan, pakaian,
rumah, hal-hal yang menyenangkan dan permainan. Lingkungan juga mencakup
orang-orang sekitar dan cara anak bertingkah laku. Tingkah laku orang tua
memberikan kepada anak kesan pertama tentang dunia disekitarnya.
Sebagai orang tua, cara orang tua tertawa, tersenyum, cemberut, gembira, sedih,
senang atau marah, puas atau kecewa, semua itu akan membentuk kepribadian anak.
Si anak akan menyerap keadaan emosional orang tua sebelum dia memahami
kata-kata yang diucapkan oran tuanya. Sejak usia dini, anak telah menyerap
ekspresi, isyarat dan suasana hati orang-orang disekelilingnya. Tabiat, tingkah
laku atau pola kepribadian anak, sangat ditentukan oleh orang tua. Si anak tanpa
disadari akan mengadakan seleksi dari hal-hal yang orang tua idealkan,
nilai-nilai, prasangka, kekuatan dan kelemahan orang tua dijadikan milik anak,
bahkan sifat neurotik orang tua bisa diambil alih oleh anak. (William,
1982,h.7)
Satu kelompok pengalaman diperoleh anak melalui latihan buang air kecil dan
besar ”toilet training”. Hal ini memberi kesempatan yang sangat bagus pada anak
untuk memberi atau menolak, bersikap kerjasama atau melawan. Membentuk
kebiasaan kerapian atau kecerobohan. Juga membantu dalam membentuk sifat-sifat
seperti kebiasaan untuk dapat melakukan sesuatu dengan lebih mandiri. Semua
kondisi tersebut dapat menjadi kebiasaan sepanjang hidup.
B. LANDASAN TEORI
B.1. Pengertian Kecerdasan Intrapersonal
Menurut May Lwin, dkk (2003) kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan
mengenai mengenai diri sendiri, kecerdasan ini merupakan kemampuan memahami
diri sendiri dan bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri.
Sedangkan Suryadi (2006, h.48) berpendapat bahwa kecerdasan Intrapersonal
adalah kemampuan diri kita untuk berpikir secara reflektif, yaitu mengacu pada
kesadaran reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Adapun
kegiatan yang mencakup kecerdasan ini adalah berpikir, merancang tujuan,
refleksi merenung, membuat jurnal, menilai diri, intropeksi, dan sebagainya.
Tokoh lain seperti Thomas Armstrong dalam bukunya Multiple Intelligences (
2004,h.4) Kecerdasan Intrapersonal merupakan kemampuan memahami diri sendiri
dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan
memahami diri sendiri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri), kesadaran
akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan
berdisiplin diri , memahami dan menghargai diri.
Dukungan dari tokoh lain untuk memperkuat pengertian Kecerdasan Intrapersonal
adalah Andyda Meliala ( 2004, h.81) yang menyebutkan bahwa kecerdasan
Intrapersonal merupakan kecerdasan diri sendiri, yaitu suatu kemampuan untuk
memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas hidup pribadinya. Orang dengan
kecerdasan ini cenderung menjadi pemikir ulung, yang secara teratur mengadakan
refleksi diri dan perbaikan diri. Penuh percaya diri dan mandiri merupakan ciri
utama pada kecerdasan ini.
Dari beberapa pengertian tentang kecerdasan Intrapersonal dapat digarisbawahi
bahwa kecerdasan ini menitikberatkan pada konsep pemahaman diri atas hidup
pribadinya.
B.2. Ciri Anak Cerdas Diri
v Menyadari tingkat perasaan dan emosinya
v Mengekspresikan emosi secara tepat
v Punya kemampuan memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan
v Bisa menertawakan kesalahan diri sendiri
v Mampu duduk sendiri dan belajar mandiri
v Penuh percaya diri
v Independen atau Mandiri
v Mampu mengontrol diri sendiri (tidak sering mengamuk)
v Meluangkan waktu untuk duduk sendirian untuk melamun dan bicara pada diri
sendiri (contoh. Thomas; bermain sendiri sambil membuat cerita, melatih
kata-kata baru)
B.3. Manfaat Mengembangkan Kecerdasan Intrapersonal
1. Citra Diri
Membangun citra diri yang kuat untuk memiliki emosi yang stabil. Sesorang
dengan citra diri yang lemah cenderung sulit mengontrol emosi (labil) ketika
dihadapkan pada masalah. Jika citra diri anak tidak dibangun, maka anak
cenderung mudah tersinggung, kesepian, bosan, dan sulit menghadapi masalah.
2. Pengendalian emosi
Pengendalian emosi yang prima membawa anak kepada tujuannya. Anak dapat melawan
kemalasan, keraguan, kemarahan dan ketakutannya. Sebaliknya lemah dalam
pengendal;ian emosi dapat berdampak negatif pada saat anak diharuskan untuk
memulai suatu langkah atau tindakan. Gagal dalam pengendalian emosi bisa
mengakibatkan anak sama sekali tidak berani mulai melangkah.Contohnya, seorang
anak yang minder sulit sekali memulai hubungan pertemanan.
3. Bertanggung jawab pada diri sendiri
Anak yang cerdas diri bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, anak yang
bertanggung jawab mudah mengakui kesalahannya dan berniat memperbaikinya.
Sebaliknya, mudah dilihat pada anak yang tidak bertanggung jawab pada diri
sendiri sering mencari-cari alasan, menyalahkan orang lain atas kegagalan atau
tidak tercapainya suatu target.
4. Harga diri
Seorang pakar dari motivasi dari Amerika, Betty B. Young menyebutkan 6 unsur
pokok dari harga diri, yaitu;
v Keamanan fisik; rasaaman dari siksaan fisik
v Keamanan emosi; bebas dari intimidasi dan ketakutan
v Identitas; tahu ”siapakah aku”
v Afiliasi; ada rasa memiliki
v Kompetensi; percaya bahwa ”aku bisa”
v Punya tujuan :mempunyai rasa memiliki tujuan tujuan dan arti hidup
Anak yang memiliki rasa percaya diri disebabkan oleh pemenuhan atas keenam
unsur tersebut dapat dkatakan sebagai karakter pemenang. Pengertian karakter
pemenang adalah seorang anak yang sanggup mengalahkan rekor terbaik dirinya
sendiri, yang sanggup berkarya lebih baik dari daripada hari kemarin.
B.4. CARA MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTRAPERSONAL
1. Menciptakan citra diri Positif
Orang tua dapat memberikan citra positif, citra diri yang baik pada anak yaitu
dengan menampilkan sikap hangat namun tegas pada anak, sehingga anak tetap
memunyai rasa hormat pada orang tua. Selain itu orang tua juga menghormati dan
peduli pada anaknya, hal ini akan menawarkan lebih mudah pada masalah
perhatian, penghargaan, dan penerimaan pada anaknya.
2. Menciptakan suasana rumah yang aman
Bila suasana rumah tidak mendukung kemampuan intrapersonal dan penghargaan diri
seorang anak, akibatnya yang terjadi anak akan menolak dan tidak menghargai
kondisi dan suasana rumah. Untuk itu orang tua perlu menghindari situasi eperti
itu, agar kemampuan intrapersonal anak tidak terhambat.
3. Kondisi lingkungan rumah
a. Anak tentu memiliki suasana hati yang dialaminya pada suatu saat tertentu,
agar anak terbiasa dan mampu mencurahkan isi hatinya,beri anak kegiatan tulis
menulis
kegiatannya. Dengan begitu anak dapat menuangkan isi hatinya dalam bentuk
tulisan ataupun gambar.
b.Orang tua dapat menanyakan pada anak dengan suasana santai, hal-hal apa saja
yang ia rasakan sebagai kelebihannya dan dapat ia banggakan serta kegiatan apa
saja yang saat ini tengah ia minati. Orang tua sebaiknya membantuvanak
menemukan kekurangan dirinya, semisal sikap-sikap negatif yang harus
diperbaiki.
c. Memberikan kesempatan menggambar diri sendiri dai sudut pandang anak. Tak
jauh berbeda dengan kegiatan mengisi jurnal pribadi, kegiatan menggambar ini
akan membuat anak seakan ”berkaca” dalam melihat siapa dirinya sesuai dengan
perasaannya, dan apa yang dia lihat sendiri, ini berguna bagi anak untuk
menambah kemampuannya melihat diri sendiri.
d. Melakukan perbincangan dengan anak semisal anak ingin seperti apa bila besar
nanti. Biarkan anak mengkhayalkan masa depannya. Dari kegiatan ini orang tua
dapat mengetahui bagaimana anak membimbing dirinya disaat ini dan juga saat
yang akan datang
e.Mengajak anak berimajinasi menjadi tokoh satu cerita. Berandai-andai menjadi
satu tokoh cerita yang dia gemari, hal ini dapat dilakukan untuk mengasah
kecerdasan intrapersonal.
f. Alangkah baiknya apabila orang tua memberi kesempatan kepada anak untuk
belajar mandiri dengan tujuan agar ia mampu membantu dirinya sendiri, Mulailah
dari hal-hal kecil dan kebiasaan sehari-hari. Caranya dengan tidak langsung
mengulurkan tangan saat anak belajar melakukan sesuatu. Belajar memakai sepatu
sendiri, kaus kaki, t-shirt, mengancingkan baju, berjalan kaki kerumah tetangga
merupakan latihan-latihan yang akan membuat anak mandiri..
g. Seandainya anak menemui masalah, misalnya kesulitan memakai sepatu sendiri,
orang tua bisa membantu dengan memberiny jembatan berpikir ke arah solusi yang
diharapkan.misal, ”jika Adek tidak bisa melakukan seperti itu , harusnya
bagaimana?”coba lihat baik-baik tali sepatunya, Adik bisa kok kalau dilakukan
pelan – pelan”. Biarkan anak menemukan solusi sendiri dari masalahnya.
Bagaimana orang tua harus menstimulasi anak untuk berpikir kreatif menemukan beberapa
alternatif solusi. Sikap kratif ditandai dengan munculnya ide-ide baru,
berbagai inovasi serta solusi tepat disaat menemu hambatan dan kesulitan.
Dengan demikian, kratifitas adalah salah satu ciri anak tangguh yang memperkuat
kemandirian. Orang tua hendaknya memberi kepercayaan penuh atas kemampuan ini.
Disini yang diperlukan adalah kesabaran untuk menunggu hasilbyang memang tidak
bisa cepat dan instan.
h. Sejak usia dini anak membutuhkan motivasi, anak yang memiliki motivasi
menunjukkan adanya keinginan dan kemauan untuk mendapat hasil maksimal,
begitupun ketika anak anak menghadapi rintangan dan kesulitan, ia mempunyai
keinginan untuk mengatasinya. Keinginan untuk lingkungannya seperti berguling,
berjalan, berbicara, tersenyum, mengespresikan kegembiraan dan lainnya sesuai
dengan tahapan perkembangannya. Peran orang tualah untuk dapat menstimulasi
anak supaya anak tidak mudah menyerah, berani menghadapi kegagalan. Bila anak
tidak memiliki motivasi diri yang bai k, dalam menghadapi rintangan anak akan lekas
puas, mudah menyerah, tak semangat untuk maju dan daya juangnya rendah..
C. PENUTUP
Setelah membaca dan memahami mengenai kecerdasan Intrapersonal pada anak
usia dini, kita dapat memperoleh saran praktis mengenai cara mengenali dan
membina kecerdasan intrapersonal anak melalui berbagai aktivitas.
Kita juga telah melihat bagaimana tampaknya kinerja anak terkait dengan
kecerdasan tersebut. Suatu pertimbangan penting pada saat ini adalah dalam
menilai setiap anak orang tua harus tetap obyektif, mengingat setiap anak
mengembangkan kemampuan dengan kecepatan yang berbeda. Setiap anak adalah
seorang individu yang unik dengan ciri yang tidak sama, dan setiap anak
memiliki yang tidak terbatas untuk belajar mengeksplorasi diri.
Kekuatan pemahaman diri pada seorang anak sangat dibutuhkan untuk dapat
berekspresi, eksis, dan berkarya dengan optimal. Untuk itu diperlukan kemauan
berproses dan tidak mengukur keberhasilan hanya dari akhirnya saja. Penghargaan
terhadap hasil semata akan membuat anak merasa kalah sebagai orang yang kalah
sekiranya ia menemui kegagalan. Padahal untuk dapat meraih prestasi seorang
anak harus meras tertantang, walaupun pernah mengalami kegagalan.
Apabila seorang anak mengalami ketidakseimbangan akibat tuntutan orang tua yang
terlalu tinggi dan selalu naknya berhasil tanpa mengindahkan proses. Umumnya ia
akan kesulitan menjaga keseimbangan antara kelebihan, keterbatasan, maupun
keunikan dirinya. Suatu saat anak akan merasa tidak nyaman terhadap dirinya
sendiri. Secara psikologis anakpun relatif rentan mengalami hambatan
pengaktualisasian diri.
Anak yang cerdas diri tidak mudah putus asa, anak dengan kemampuan ini memiliki
kemampuan menghadapi masalah serta mencari dan menemukan solusi efektif bagi
persoalan yang dihadapinya. Dalam masa perkembangannya, berbagai persoalan
mungkin tidak hanya cukup dihadapi dengan intelektualitas tetapi juga
diperlukan dengan pendekatan emosi.
Oleh karena itu, untuk dapat menjadi anak yang cerdas diri ( self smart) anak
harus tetap mendapatkan stimulasi pendukung pada semua jenis kecerdasan,
terutama kecerdasan emosi, sosial, maupun spiritual. Semua ini harus
diberdayakan dan dioptimalkan agar anak mempunyai kunci- kunci yang membuka
potensi kecerdasannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Andyda Meliala, 2004. Anak Ajaib. Yogyakarta.Andi Offset
- Dale R. Olen 1987. Kecakapan Hidup Pada Anak. Yogyakarta, Kanesius
- May Lwin,dkk, 2005, Cara membangkitkan Berbagai Komponen
kecerdasan. Jakarta. Gramedia
- Nakita, 2006. Panduan Tumbuh Kembang. Jakarta. PT.Sarana kinasih
- Pusat Bimbingan UKSW, 1981. Bagaimana Meningkatkan Pemahaman
Diri. Salatiga, Percetakan Satya Wacana
- Suryadi, 2006. Kiat Jitu Mendidik Anak.Jakarta, Edsa Mahkota
- Thomas Armstrong, 2002. Multiple Inteligences. Bandung, Kaifa